Catatan sepuluh tahun pengasingan dan pembuangan
![]() |
| Pramoedya Ananta Toer, sastrawan yang dipenjara di pulau Buru, menyelesaikan karya-karyanya dengan sebuah mesin tik tua pada masa penahanannya. (Sindhunata/KOMPAS) |
Selama hampir seharian, ratusan tahanan politik itu dijemur di pelabuhan Sodong, Nusa Kambangan. Di pelabuhan tersebut, mereka sedang menunggu kapal yang akan membawa mereka ke pulau Buru, Maluku. Sebuah pulau yang akan menjadi tempat pengasingan bagi mereka.
Selagi menunggu kapal, beberapa tahanan beramai-ramai memakan daun bluntas mentah yang terletak pada sejalur pagar bluntas di dekat barisannya. Daun yang dipenuhi oleh debu jalanan ini tak sempat dicuci, andaikata sempat pun, mereka akan kena pukul terlebih dulu sebelum sempat meninggalkan barisan. Salah satu tahanan pemakan daun bluntas tersebut bernama Pramoedya Ananta Toer.
Pria yang saat itu berusia 44 tahun ini menceritakan bagaimana para tahanan melawan kelaparan. Sebagian memakan tikus kakus yang gemuk dan besar. Lainnya memakan bonggol pepaya ataupun pisang mentah-mentah. Adapula yang memakan lintah darat. Bahkan, ada seorang tahanan yang menelan cicak mentah-mentah. “Keberanian menantang kelaparan adalah kepahlawanan tersendiri,” ungkap Pramoedya dalam bukunya ini.



